Trending

Mahasiswa Dan Kesadaran Palsu



Mahasiswa Dan Kesadaran Palsu

fhoto pribadi yuli echo pigome, lokasi gambar di kebung 
binatang-gorontalo

Penulis: Yuli Echo Pigome

Mahasiswa itu bukan pasukan iblis yang mudah berbuat alpa dan dusta. Mahasiswa juga bukan hidup untuk menyelematkan urusan dirinya sendiri. Mahasiswa itu punya legenda dan ikatan. Legenda bahwa dirinya adalah kekuatan pengubah sejarah. Dan Ikatan dengan mereka yang ditindas dan dilukai. 

Sebagai mahasiswa, [aku] pikir kalian merasakan: perkembangan kapitalisme dalam sektor pendidikan bukan hanya mendorong terkomodifikasinya kampus dan pengetahuan, tapi juga membelenggu kemanusiaan dengan onggokan aturan dan kesewenang-wenangan. [Aku] juga yakin: selama berkuliah pasti kalian sudah pernah melihat dan terperangah dengan aneka kekerasan birokrasi pendidikan. (PEMBEBASAN Mataram; Perjuangan dan Solidaritas untuk Mahasiswa UBG, 2022)

Praktik keji itu menjulur melalui seabrek tampilan: melarang membaca dan mendiskusikan soal-soal politis karena alasan prosedur, membubarkan segala kegiatan penyadaran lantaran permintaan kepolisian dan militer, membatasi gerakan organisasi eksternal tanpa kejelasan, hingga mengancam, mengeriminalisasi, dan memberhentikuliahkan mahasiswa kritis atas tuduhan telah melakukan pelanggaran. (PM; PSMUBG, 2022)

Karena segala ketimpangan dari sistem pendidikan kapitalis yang dipaparkan di atas maka sebagian kecil kami–sebagai mahasiswa–melakukan perlawanan, dengan langkah pertama membuat suatu aliansi (wadah pergerakan) yang kami sepakati bernama Gerakan Mahasiswa Bumigora (GEBUG), yang beranggotakan 15-16 orang pada waktu awal aku bergabung dengan aliansi ini. 

Melalui motor penggerak ‘pertentangan melawan faktor obyektif: sistem kampus yang menindas’ dan faktor subyektif ‘kepemimpinan GEBUG’, kami mulai berkumpul di Taman Sangkreang untuk melakukan pembacaan situasi (konsolidasi) secara rinci tentang permasalahan-permasalahan di dalam lingkup kampus Universitas Bumigora Mataram. Hasil dari konsolidasi tersebut kami (GEBUG) akan melakukan Mimbar Bebas keesokan harinya dengan jumlah massa kami sebanyak 12 mahasiswa. Aksi kami lancarkan dalam kampus, di lapangannya. Isu-isu yang kami angkat dalam aksi tersebut antara lain: (1) Sektet UKM; (2) Fasilitas; dan (3) legalitas HMJ. 

Setelah usai aksi, sewalaupun ada hambatan-hambatan berupa represifitas dari pihak birokrasi, namun kami tetap melanjutkan orasi hingga diterimanya semua tuntutan yang kami bawakan. Hanya aksi ini menjelang libur semester (UAS). Maka pasca pembayaran SPP ‘semester’ kami, massa yang aksi sebelumnya ternyata dikagetkan dengan hilangnya akun virtual yang sebagaimana digunakan untuk melakukan pembayaran semester. Iinlah bentuk reaksi birokrat; represifitas kampus dalam merespon tindakan kami yang melakukan aksi atau menyampaikan aspirasi di dalam kampus. 

Represifitas kampus menyasar kami yang berjumlah 12 massa aksi, antara lain: (1) Lalu Wire Sumekar; (2) Ardian Pratama; (3) Abdul Aziz; dan sebagainya. Namun sebelumnya harus kawan-kawan ketahui–sebelum melakukan aksi demonstrasi tersebut, kami para anggota Gebug telah menyepakati: ‘suatu reaksi apapun yang terjadi, kita (GEBUG) adalah satu suara–sama-sama sakit dan berdarah’.

Namun apa yang terjadi? Dengan segala hegemoni dan dominasi birokrasi kampus UBG terhadap mahasiswanya yang melakukan aksi membuat sejumlah kawan kami melanggar sumpah, yang dimana tidak berkomitmen untuk satu suar; sama-sama sakit dan berdarah. 

Dan kejadian itu yang awal mula yang membuat anggota GEBUG mulai rontok satu persatu. Bahwa kawan-kawan harus ketahui itu adalah pengkhianatan yang paling hina; menurut kami itu suatu yang tidak perlu dilakukan oleh kawan-kawan, apalagi kita sudah sepakai kita adalah aliansi dan sama-sama dalam pengambilan keputusan namun apa yang kami dapatkan? Sebagian anggota GEBUG pada waktu itu meminta maaf kepada birokrasi–ini sangat membuat kami geram karena dilakukan dengan cara diam-diam (tersembunyi). 

Bukan hanya itu, bahkan dari kejadian itu banyak mahasiswa yang menyatu kepada birokrasi kampus sekarang dan dengan lantang berani membela birokrasi kampus yang di mana mahasiswa dan birokrasi kampus beda kepentingan; lalu kenapa seorang mahasiswa membela kepentingan kampus? Ya, inilah yang dinamakan kesadaran palsu dari mahasiswa: naif, oportunis. 

Lebih lucunya lagi, ada salah seorang mahasiswa (hukum). Ardian Pratama namanya. Dia dengan lantang melayani kepentingan birokrasi kampus dan melawan mahasiswa yang membela kepentingan umum dengan stigma kalian metodenya ‘demokrasi kekerasan’ [entah apa yang dimaksud dengan itu? Yang jelas: pernyataan ini tidak saja keliru, tapi terutama berkontradiksi].

Bahkan dalam suatu pleno yang mempertemukan antara birokrasi dengan organisasi mahasiswa dalam suatu agenda yang diadakan BEM (Lokakarya) dengan tema: Kuliah di Uinversitas Bumigora Dapat Apa? Dalam agenda tersebut, aku menjadi perwakilan mahasiswa Fakultas Hukum UBG yang menuntut agar direalisasikannya Ruangan Peradilan Semu untuk mahasiswa Prodi Ilmu Hukum. Hanya dalam agenda tersebut timbullah sedikit polemik antara aku dengan Rektor UBG. Namun begitu pandirnya si Ardian; dia mengeluarkan pernyataan bahwa aku kurang ajar. Itu baginya merupakan praktik ‘demokrasi kekerasan’ [sebuah konsep yang bukan saja tidak jelas, tapi juga tak pernah dia terangkan jelas-jelas].

Dari rentetan kejadian di atas maka dapat disimpulkan bahwa mahasiswa seperti Ardian Pratama ini tidak mengerti tentang demokrasi, apalagi perjuangan demokratis sosial. Dia jadinya nampak lucu karena begitu berkepala batu. Inilah peringai mahasiswa yang terbawa arus sistem kapitalis (kebudayaan borjuis) yang hanya mementingkan kehidupan dirinya tanpa melihat keadaan sosial.

Maka dengan tulisan ini aku ‘mengecam keras’ mahasiswa-mahasiswa yang pola pikirnya seperti itu. Karena inilah yang menjadi penghambat suatu gerakan dalam perjuangan memenangkan demokratisasi kampus dan inilah sosok pengkhianat dalam gerakan mahasiswa. Eksistensi mahasiswa mungkin hanya ada pada almamaternya, namun tidak ada dalam otak dan hatinya!

“Semoga budaya kehidupan mekar dan berjaya tanpa kekerasaan, hinaan, dan kepongahan.” (Pepatah)

“Suara-suara itu tidak dapat di penjarakan. Di sana bersemayam kemerdekaan. Apabila engkau memaksa diam. Aku siapkan untukmu: pemberontakan!” (Wiji Thukul)

Post: Echowaiphode

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak